PENGEMBANGAN KONSEP PADA ANAK TUNANETRA

Anak dengan hambatan penglihatan (tunanetra) seringkali mengalami kekurangan konsep-konsep dasar dan gagal untuk menyatukan komponen-kom¬ponen penting informasi dari lingkungan untuk membentuk beberapa konsep. Kesulitan membentuk konsep ini salah satu penyebabnya adalah hilangnya persepsi penglihatan. Dibandingkan dengan persepsi yang lain, persepsi penglihatan lebih banyak diterima oleh manusia. Para psikolog dan pendidik percaya bahwa 90-95% persepsi seseorang datang dari informasi visual (Hatlen dan Curry, 1987; dalam Tailor dan Sternberg, 1989).
Menurut Lowenfeld (1973) ketunanetraan dapat mengakibatkan tiga macam keterbatasan, yaitu (1) keterbatasan dalam luasnya dan variasi pengalaman, (2) keterbatasan dalam kemampuan untuk berpindah tempat, dan (3) keterbatasan untuk mengontrol dan berinteraksi dengan lingkungan. Dalam kehidupan sehari-hari ada banyak informasi atau konsep yang harus dipahami sehingga pengalaman seseorang menjadi kaya. Beberapa informasi atau obyek memerlukan penglihatan untuk me¬mahaminya dengan sempurna, misalnya obyek-obyek yang sangat kecil atau sangat besar, bahaya untuk diraba, jauh dari jangkauan tangan seperti semut, gajah, api, matahari dan sebagainya. Untuk memahami matahari, seorang tunanetra terpaksa melalui deskripsi verbal dari orang lain. Untuk memahami laut dapat melalui men¬dengarkan suara ombak dan meraba airnya, tetapi bagaimana warna dan bentuk gelombangnya tidak dapat dipahami secara sempurna tanpa peng¬lihatan.
Keterbatasan dalam variasi dan luasnya pengalaman ini sangat terkait dengan proses pembentukan konsep-konsep atau mempersepsi obyek-obyek di lingkungan¬nya. Hambatan atau keterbatasan dalam pembentukan konsep tersebut sangat mempengaruhi perkembangan kognisi seseorang.
Agar anak tunanetra berkembang secara optimal – khususnya perkem¬bangan kognisinya – setiap lembaga pendidikan atau sekolah bagi anak tunanetra, dalam kurikulumnya perlu memberikan perhatian yang cukup pada materi pengembangan konsep ini. Sebagaimana dinyatakan oleh para praktisi pendidikan bahwa materi pengembangan konsep merupakan salah satu materi yang wajib diajarkan pada anak tunanetra (Dodson-Burk dan Hill, 1989; Hill dan Blasch, 1980). Biasanya materi pengembangan konsep ini tercakup dalam keterampilan Orientasi dan Mobilitas (OM), dimana keterampilan OM mencakup (1) keterampilan sensori (sensory skills), (2) pengembangan konsep (concept development), (3) pengembangan motorik (motor development), (4) keterampilan orientasi (orientation skills), dan (5) kete¬rampilan mobilitas (mobility skills). Tujuan utama pengajaran OM pada tunanetra adalah agar mereka dapat melakukan perjalanan secara aman, mandiri, efektif, dan percaya diri.
Pengajaran konsep pada anak-anak termasuk anak tunanetra harus di¬berikan dengan metode yang sistematik agar anak dapat membentuk konsep-konsep tersebut secara benar. Dalam pengajaran konsep pada anak tunanetra perlu memper¬tim¬bangkan hal-hal sebagai berikut: konsep-konsep apa saja yang paling mendasar untuk diajarkan, bagaimana melakukan asesmen pe¬ma¬haman konsep dan bagaimana mengintegrasikan pengajaran konsep dalam berbagai mata pelajaran yang lain.
Tulisan ini bermaksud untuk membahas suatu pendekatan yang siste¬matik untuk mengajarkan konsep-konsep khusus yang penting bagai anak tunanetra. Pendekatan ini didasarkan pada pertimbangan cara berfikir yang logis yang meng¬arahkan agar proses pengajaran konsep dapat dilakukan dengan berhasil.
Konsep-konsep Penting bagi Anak Tunanetra
Hill dan Blasch (1980) mengklasifikasi jenis-jenis konsep yang diperlukan bagi anak tunanetra menjadi tiga kategori besar, yaitu (1) konsep tubuh (body concepts), (2) konsep ruang (spatial concepts), dan (3) konsep lingkungan (envi¬ronmental concepts). Informasi yang diperlukan oleh tunanetra untuk mengenal konsep tubuh mencakup kemampuan untuk mengidentifikasi atau mengenali nama bagian-bagian tubuh serta mengetahui lokasi, gerakan, hubungannya dengan bagian tubuh yang lain, dan fungsi bagian-bagian tubuh tersebut. Pengenalan tubuh yang baik merupakan modal dasar untuk mengembangkan konsep ruang dan sebagai dasar untuk proses orientasi dirinya terhadap lingkungan yang diperlukan untuk mencapai mobilitas yang baik.
Konsep ruang (spatial concepts) mencakup posisi (positional) atau hubungan (relational), bentuk, dan ukuran. Sebagai contoh konsep tentang posisi/hubungan meliputi depan, belakang, atas, bawah, kiri, kanan, antara, atau paralel. Yang termasuk konsep bentuk meliputi bulat, lingkaran, persegi panjang, segi tiga, dan lain-lain. Sedangkan yang termasuk konsep ukuran meliputi jarak, jumlah, berat, volume, atau panjang. Konsep ukuran dapat berupa satuan seperti: kg, cm, m2, dll. Di samping itu, yang termasuk konsep ukuran adalah ukuran relatif seperti kecil, besar, berat, ringan, sempit, jauh, dan sebagainya.
Sebelum memulai mengajar atau mengembangkan konsep pada anak tuna¬netra, diperlukan untuk mengidentifikasi beberapa konsep yang di¬anggap penting untuk dipahami anak tunanetra agar dapat berpartisipasi dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah. Berikut ini adalah beberapa konsep untuk proyek pengajaran pengembangan konsep dan orientasi mobilitas oleh guru di Universitas San Francisco. Tentu saja ini bukanlah daftar konsep yang terlengkap perlu dipahami oleh anak tunanetra. Konsep-konsep lain masih perlu ditambahkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
Menurut Hall (1982) ada sepuluh kategori konsep yang dianggap penting bagi anak tunanetra, yaitu (1) kesadaran tubuh (body awareness), (2) kesadaran lingkungan (enviromental awareness), (3) kesadaran karakteristik obyek (awareness of object characteristics), (4) kesadaran waktu (time awareness), (5) kesadaran ruang (spatial awareness), (6) aksi (actions), (7) kualitas (quality), (8) kesadaran simbol (symbol awareness), (9) kesadaran emosi dan sosial (emotional and social awareness), dan (10) proses berfikir (reasoning).
Kesadaran tubuh adalah konsep-konsep yang digunakan terkait dengan ang¬gota tubuh, yang di antaranya: atas, bawah; belakang, depan; tengah; seluruh tubuh; nama bagian tubuh yang penting; tubuh bagian atas, tubuh bagian bawah; dan hubungan antarbagian tubuh; kesadaran kinestetik meliputi: belok, gerak, diam; kesadaran proprioceptive meliputi: meng¬genggam, lipat tangan, berdiri tegak; sensasi meliputi: pembauan, peng¬lihatan, perabaan, pendengaran, pengecap; ekspresi wajah meliputi: senyum, mengerutkan dahi, dan lain-lain.
Kesadaran lingkungan yaitu kesadaran atas obyek yang ada di lingkungan dan hubungan khusus antar obyek, misalnya: perempatan, jalan, trotoar, lampu lalu lintas, took, rumah, kafe, bus, kereta api, meja, kursi, kotak surat, tangga, mendung, jalan setapak, jalan layang, pesawat terbang, dan lain-lain.
Kesadaran karakteristik obyek adalah kesadaran akan karakteristik umum suatu obyek yang meliputi: ukuran, bentuk, warna, suara, tekstur, dan perbandingan. Untuk ukuran misalnya: kecil, sedang, besar, lebar, sempit, panjang, pendek, dalam, dangkal, gemuk, kurus, dan lain-lain. Untuk bentuk misalnya: lingkaran, segi tiga, persegi, bujur sangkar, dan sebagainya. Untuk warna misalnya: gelap, terang, keruh, dan nama-nama warna. Untuk suara misalnya: tinggi, rendah, keras, pelan. Untuk tekstur misalnya: kasar, halus, kaku, lentur, keras, lunak. Perbandingan misalnya, lebih besar, lebih kecil, sama, dan berbeda.
Kesadaran waktu, yaitu konsep yang berhubungan dengan waktu, misalnya: mulai, berakhir, sebelum, sesudah, pertama, berikutnya, hari ini, besok, kemarin, yang akan datang, dan sebagainya.
Kesadaran ruang, yaitu konsep yang berhubungan dengan posisi, misalnya: paralel, siku-siku, pinggir, tengah, di dalam, lurus, di antara, jauh, dekat, dan lain-lain.
Aksi yaitu konsep yang berkaitan dengan gerakan, misalnya: menulis, membaca, melompat, memakan, meminum, merangkak, mendorong, me¬mukul, menarik, melempar, menendang, dan sebagainya.
Kualitas, yaitu konsep yang berhubungan dengan angka atau kombi¬nasi angka, misalnya: setengah, sepertiga, beberapa, sedikit, dan banyak. Yang berhu¬bungan dengan operasi hitung, misalnya: meter, detik, menit, jam, tambah, kurang, bagi, kali, dan sebagainya.
Kesadaran simbol, yaitu konsep tentang simbol-simbol yang penting misalnya: arah mata angin, kata ganti orang seperti saya, dia, mereka, kamu, kami, dan lain-lain.
Kesadaran emosi dan sosial, yaitu konsep-konsep yang berhubungan dengan penyesuaian psikososial, misalnya: bahasa tubuh, konsep diri, suasana hati (sedih, senang, kecewa, atau marah), tinggi rendah suara waktu bicara (intonasi), cara bertanya, dan lain-lain.
Reasoning yaitu proses berfikir yang menggunakan konsep, misalnya: orien¬tasi, estimasi, memutuskan, membuat pertimbangan (baik, buruk, salah, benar, dan lain-lain).
Pengajaran Konsep

Selama proses belajar mengajar atau komunikasi pada orang lain khususnya dengan anak tunanetra, seringkali kita menggunakan konsep-konsep yang tidak mudah atau bahkan sulit dipahami oleh anak. Misalnya, ketika kita berkomunikasi dengan anak tunanetra kita menggunakan istilah (konsep) ‘ini’, ‘itu’, ‘di sana’ yang semuanya tidak dapat dipahami oleh anak tunanetra. Di samping itu, kita juga sering beranggapan bahwah istilah yang kita gunakan sangat mudah, tetapi kenyataannya tidak bagi anak-anak. Jika hal semacam ini berlangsung cukup lama dan banyak konsep yang tidak dipahami, maka dapat menghambat perkembangan konsep anak-anak.
Untuk memperkenalkan suatu konsep pada anak-anak agar dipahami secara benar perlu dilakukan dengan pendekatan yang sistematis. Pendekatan yang siste¬matis dalam menyampaikan konsep ada dua langkah. Pertama, memberikan atau mengembangkan definisi tentang konsep yang dimaksud. Pembuatan definisi ini dimaksudkan untuk memberikan karakteristik suatu konsep secara umum dengan cara sesederhana mungkin. Oleh karena itu, definisi ini tidak harus selalu diambil dari kamus. Definisi yang sederhana akan membantu memudahkan untuk me¬mahaminya. Kedua, melakukan pro¬ses analisis secara konseptual agar konsep ter¬sebut dapat dipahami dengan langkah-langkah yang strategis secara hirarkis.
Sebagai contoh, kita akan memperkenalkan konsep ‘depan’. Diharap¬kan anak dapat menunjukkan secara verbal, atau perabaan bagian depan suatu obyek yang tidak memiliki bagian depan dan belakang secara jelas (misalnya meja). Untuk itu, pertama-tama konsep ‘depan’ tersebut kita pecah sekurang-kurangnya satu tingkat di bawah level pemahaman anak. Dalam contoh ini konsep ‘depan’ dipecah menjadi prosedur sebagai berikut.
Pertama, anak diminta menunjukkan bagian depan tubuhnya atau meng¬¬identifikasi obyek-obyek yang tidak memiliki bagain depan dan belakang secara jelas (definitive). Kedua, anak diminta mengidentifikasi obyek-obyek yang tersentuh tubuh dengan mengatakan bahwa obyek-obyek tersebut berada di depan tubuhnya. Ketiga, anak diminta mengidentifikasi benda-benda yang berada di depannya. Keempat, anak diminta meng¬iden¬tifikasi bagian depan suatu obyek yang berada di depannya. Dengan pro¬sedur ini, diharapkan anak mendapatkan pengertian istilah ‘depan’ dengan berbagai makna. Prosedur tersebut secara skematis dapat di¬gam¬barkan sebagai berikut.

 

DAFTAR PUSTAKA
Dodson-Burk, B. dan Hill, E.W. (1989). An orientation and mobility for families and young children. New York: American Foundation for the Blind.
Hill, E.W. dan Blasch, B.B. (1980). “Concept development”. Dalam Welsh, R.L., dan Blasch, B.B. (eds.), Foundation of orientation and mobility (hlm. 265-290). New York: American Foundation for the Blind.
Tailor, R.L. dan Sternberg, L. (1989). Exceptional Children. Integrating Research and Teaching. New York: Springer-Verlag.
Lowenfeld, B. (ed.). (1973). The visually handicapped child in school. New York: The John Day Company.
Scholl, G.T. (ed). (1986). Foundations of education for blind and visually handicapped children and youth: Theory and practice. New York: American Foundation for the Blind.
McLinden, D.J. (1981). ”Instructional for Orientation and Mobility”. Journal Visual Impairment & Blindness, 75, 7, 300-303
Mangold, S.S. (1982). (ed.). A teachers guide to the special educational needs of blind and visually handicapped. New York: American Foundation for the Blind.

Tentang pendidikananaktunanetra

saya adalah saya
Pos ini dipublikasikan di anak tunanetra. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s