Ajak Anak Tunanetra Mandiri Sejak Dini

MEMILIKI kekurangan tidak menghalangi anak-anak usia dini untuk mengembangkan diri. Apalagi sekarang telah hadir Pusat Layanan Dini (Early Intervention Center) untuk anak Tunanetra dan Anak dengan Gangguan Penglihatan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Pembina.
Pusat layanan yang diprakarsai oleh Helen Keller International (HKI)/Indonesia dan didukung oleh United States Agency for International Development (USAID) ini diresmikan Gubernur Sulsel melalui Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, dr Rachmat Latief, Selasa (13/10).
Melalui pusat layanan dini ini, anak-anak yang menderita tuna netra atau gangguan penglihatan bisa mengembangkan diri lebih terarah karena tenaga didik yang ahli telah mendapat pelatihan dari Helen Keller International (HKI).
Untuk tahun ajaran 2009 ini, ada tujuh anak yang mendapat pembinaan yang terarah. Layaknya sekolah taman kanak-kanak (TK) umum, di tempat ini, anak-anak yang memiliki gangguan penglihatan ini juga mendapatkan penanganan dini.
Mereka diberikan latihan dasar tentang aktivitas sehari-hari, seperti latihan dasar seperti memakai sepatu, mengancing baju, bahkan membuat teh. Ini semua dilakukan tentu dengan kesabaran yang luar biasa dari pendidik, karena semuanya harus ditangani dengan khusus dan maksimal. “Pada usia ini, mereka belum menemukan jati diri, apalagi dalam kondisi mereka yang kurang tersebut. Di sini, mereka dikenalkan pada diri sendiri dan akhirnya siap masuk pada pembelajaran,” ujar Kepala SLB Pembina, Fatmawati Azis MPd. Fatmawati melanjutkan, dari pengenalan aktivitas sehari-hari, kemudian dilanjutkan pada perhatian orientasi mobilitas, pengenalan huruf braille, sampai anak itu nanti terarah.
Melalui pelayanan dini ini, terlebih dahulu diketahui apa kebutuhan anak. Karena setiap anak memiliki kebutuhan tersendiri, tergantung dengan kondisinya. Ada yang buta total, low vision (penglihatan kabur/samar) yang bisa ditolong dengan kacamata, dan ada juga yang memiliki kecacatan ganda. Seperti tunanetra sekaligus tunarungu atau grahita, atau lainnya.
“Selain mengikuti pembelajaran, anak-anak di sini juga menjalani terapi dan layanan kesehatan, untuk memantau perkembangan mereka,” ujar Fatmawati. Ini mengajarkan anak-anak lebih mandiri dan tetap merasa percaya meski dalam keterbatasan tersebut. Jika sudah masuk, akan dipindahkan ke jenjang SD, baik di SLB maupun ke SD umum. Mereka juga mendapat pelatihan kekhususan, misalnya mayoritas dilatih dengan tongkat, bagaimana jika berada di lingkungan umum, bagaimana saat akan menyebrang jalan, atau akan naik angkot.

Target Lanjut ke SD

KEHADIRAN Pusat Layanan Dini untuk anak tunanetra dan anak dengan gangguan penglihatan diharapkan bisa meningkatkan mutu dan kesempatan pendidikan kepada anak, meski dalam keterbatasan.
National Program Manager OVC HKI, Emilia Kristiyanti, mengatakan target dalam setahun, ada anak yang bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SD, baik di SLB maupun ke sekolah umum. Karena dengan penanganan yang maksimal dan secara khusus dari guru yang telah mendapat pelatihan dari HKI, maka anak-anak bisa tumbuh dan siap untuk berbaur dengan anak-anak normal di sekolah umum sekalipun. Kehadiran HKI ini meningkatkan pelayanan pendidikan kepada anak-anak yang mendapat perlakuan khusus.
Menurut Kepala Seksi Pendidikan Luar Biasa dinas Pendidikan Provinsi Sulsel, Andi Patawari, HKI hadir di Sulsel sejak tahun 2007 dan telah melahirkan tenaga pendidik dengan kemampuan dan keahlian hebat dalam melayani anak-anak berkebutuhan khusus.

Sumber : http://www.tribun-timur.com/read/artikel/52811

Tentang pendidikananaktunanetra

saya adalah saya
Pos ini dipublikasikan di anak tunanetra. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s